Slider

Sumatera Barat

Kota Padang

Sport

Opini

Nasional

Agam

» » » "HEBAT" Kisah Inspiratif Seorang Guru SMKN1 Ampek Nagari

Jetnews, Berikut kisah inspiratif yang redaksi anggkat untuk para pembaca agar mendapatkan pelajaran dari seorang guru di agam melalui sebuah tulisan singkat yang berisi pengalaman hidup nya yang di beri judul . 

"HEBAT "

Oleh : Fifi Afrianti.
Guru SMK 1 Ampek Nagari

Ketika usia SD dulu, bagi saya hebat itu adalah bisa bernyanyi dan menari seperti artis cilik di tivi. Menjadi artis adalah suatu impian rata-rata anak kecil waktu itu termasuk saya yang sangat berambisi sekali tanpa peduli  suara cempreng dan wajah pas-pasan. pokoknya menjadi artis itu hebat, sementara juara kelas itu hanya selingan he he he

Ketika usia mematangkan pemikiran, ternyata hebat itu bukanlah artis. Hebat itu adalah guru yang bajunya rapi dan manjadi satu-satunya orang terpintar dalam ruangan segiempat yang kita sebut itu kelas.

Mampu berbicara di depan banyak orang itu adalah suatu prestasi. Menguasai pemikiran seisi ruangan adalah hal yang menakjubkan. Waktu itu saya Tak peduli apakah yang saya ucapkan mempunyai makna yang akan mengantarkan saya ke surga atau hanya sekedar perkataan yang sia-sia, saya tak peduli. pokoknya ngomong aja lalu yang mendengarkan mengangguk-angguk tanda setuju. ketika SMA, sebagai pelatih Pramuka saya coba melatih bakat berbicara di depan banyak siswa SD.

Rasanya belum cukup kalau hanya sekedar bicara saja apalagi bicara yang sia-sia. Waktu tahun pertama kuliah di Universitas Negeri Padang standar hebat saya kembali bergeser dan berubah pola. Ternyata hebat itu adalah motivator yang mampu mengubah pola pokir manusia yang mendengarkannya bahkan mampu memotivasi dan menyemangati hingga mereka yang mulanya biasa saja setelah mendengar motivator berbicara, hidupnya akan menjadi luar biasa, Begitu bermanfaatnya, bukan????. Ambisi saya menjadi motivator sepertinya tak bisa dibendung lagi, hingga saya mulai mempelajari gaya bicara, intonasi, mimik wajah sang motivator. Hingga semua yang saya lihat, yang saya baca tentangnya saya rekam dalam ingatan secara seksama. Walaupun tidak serinci motivator yang aslinya namun saya berhasil mempraktekannya ketika memotivasi adik-adik di SMA untuk bersemangat kuliah dan pentingya kita melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi.

Memang tidak ada standar sukses waktu itu, tapi ada rasa puas setelah mampu berbagi pengalaman melalui cerita. Pada waktu itu, layaknya motivator handal saya mencoba mengkombinasikan materi dengan hiburan semacam ice breacking agar para pendengar tidak bosan juga.( tentunya waktu itu saya merasa sangat hebat sekali)

Indahnya berbagi semangat itu adalah Ketika kita menyemangati orang lain sebenarnya pada waktu yang bersamaan kita sedang menyemangati diri kita sendiri. Bersama komunitas "Rumah Pelangi" saya mencoba mengunjungi beberapa panti asuhan untuk berbagi semangat, pengalaman dan berbagi sedikit santunan yang kami kumpulkan dari beberapa donatur. Aduhaai.. sepertinya standar hebat saya semakin berpola dan tentunya disanalah hidup ini terasa manfaatnya, karena hidup hanya sekali, harus berarti lalu kembali kepada Allah.

(Apa itu komunitas Rumah pelangi? Nanti akan saya coba bercerita ditulisan berikutnya)

Mencoba mendefinisikan makna "Hebat" dalam kehidupan sesuai tahapannya. Seperti sarjana lainya setelah jambul toga dipindahkan kesebalah kanan oleh rektor kampus maka itu pertanda lampu hijau untuk memasuki tahapan selanjutnya yaitu dunia kerja. Waktu itu pondasi  saya bekerja adalah ngin membahagiakan orang tua, namun setelah menerima gaji pertama, lebih kurang 1 juta 200 ribu rupiah, rapel gaji 3 bulan kerja ditambah sebagai pembina kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka. Dengan bahagia dan bangga saya menyerahkan semua gaji tersebut pada orang tua. Tapi sayang, emak menolaknya meliau menegaskan bukan itu yang beliau butuhkan. Terdiam sejenak, kalau bukan ini lalu apa???? Entahlah. Semuanya seakan tak terdefenisi waktu itu.

Apakah standar hebat berhenti disana? Ternyata tidak. Semakin banyak mengamati semakin banyak belajar semakin banyak mendengar hebat itu adalah mereka. Mereka yang mampu bertahan ketika perekonomian tak lagi memberikan banyak pilihan selain mensyukuri takdir finansial. Meski tak cukup namun tetap berjuang agar tak kekurangan, berjuang agar tak menyusahkan. Tidak merepotkan orang lain adalah suatu keharusan begitu yang saya pahami. Sudah Cukup meminta, kini saatnya memberi begitulah ambisi setelah saya menyelesaikan pendidikan strata satu difakultas pendidikan fisika UNP. 

Manusia dibentuk dari proses berfikir begitupun saya. Setelah menjalani bakti menjadi guru, akhirnya mulai berontak dengan rapinya pakaian dinas yang tidak imbang sekali dengan gaji yang alakadarnya. Untuk memenuhi batin sendiri saya mencoba hal yang lebih. Dan berwirausaha adalah pilihan saya waktu itu mencoba merintis usaha yang alakadarnya waktu itu mencoba serius dalam berdagang dan membuka bimbingan belajar dalam waktu bersamaan. Capek juga.... he he he.. capek mikir strateginya.

Dengan semangat juang untuk meraih standar sukses berikutnya saya habiskan waktu membuat target rapi agar usaha saya berjalan sesuai harapan. Waktu itu Saya begitu menyukai aktifitas ini. Hampir setiap do"a yang saya ucapkan itu demi kesuksesan usaha ini.

Segala titik dijelajahi, tak satupun yang saya pahami, standar hebat yang silih berganti, hingga akhirnya saya terdampar di tempat yang tak pernah diduga sebelumya. Mengutip kata buya hamka "kamu hanya  menemukan apa yang kamu cari". bisa jadi inilah yang saya cari selama ini sehinga tiba-tiba standar "hebat" saya kembali berubah. Hebat itu adalah ketika mampu berfikir cemerlang, memiliki nafsiyah islamiah dan selalu bersikap "ending",( segala tindakan yang kita lakukan hanya berakhir di dua muara yaitu syurga dan neraka). Yahhh... mungkin inilah hebat yang sesungguhnya.

Ketika sudah berada dititik ini, jangan merasa hebat sendiri, sebelum merasakan lelahnya belajar, perihnya berbenah dan sulitnya dakwah. Bukankah surga yang kita harapkan sama dengan bilal bin rabbah, sumayah dan keluarga yasir??

Di usia yang tak lagi muda tiba-tiba saya malu sekali ketika mengetahui Ali bin abi thalib memulai belajar di usia 8 tahun,  Dengan keadaan islam yang tidak seperti yang saya rasakan seperti saat ini. Waktu itu Ali dan  sahabat rasullulah lainnya belajar secara SEMBUNYI di darul Arqam. semua sahabat masih dalam berusia muda kecuali umar bin khatab berusia 26 tahun ( kalau ndak salah), Nah... sekarang?? Dikesempatan belajar agama tidak mesti bersembunyi, kenapa harus menghentikan langkah? Bukankah kita masih mengharapkan surga yang sama??

Pokoknya saya selalu pengen jadi hebat. Semoga mampu bertahan dijalan Ini. Jalan dakwah yang penuh onak dan duri. Jalan dakwah yang sepi tepuk tangan dan puji..

Sekian kisah inspiratif yang bisa kami redaksi bagikan semoga bermanfaat untuk kita shere kepada teman kerabat kita semua agar menjadi manfaat dan kami redaksi jetnews mengajak kita untuk mengirim kisah inspiratif lainnya kepada redaksi  agar bisa menjadi pelajaran untuk orang banyak . (NK)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama